Makanan Sebagai Media Berempati Dikala Pandemi

Makanan Sebagai Media Berempati Dikala Pandemi

Oleh: Amadea Intan Kharisma

Makanan merupakan bahasa yang universal. Ketika menyangkut segala hal yang berhubungan dengan perut, setiap orang dari berbagai latar belakang akan mudah dipersatukan dengan segala hal yang dihidangkan. Hal ini diakui oleh Proklamator kita Bung Karno, dalam buku kitab resep Mustika Rasa, beliau menggunakan media makanan sebagai suatu media untuk berpolitik dan memasukan pemikiran-pemikiran revolusi. Begitu juga dengan yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo, dimana beliau menjamu beberapa tokoh politik penting di meja makan dengan berbagai kudapan. Selain digunakan untuk alat berdiplomasi, di tengah pandemi COVID-19 yang memaksa kita untuk melakukan karantina diri #DiRumahAja, ada satu tradisi baru yang tumbuh selama karantina ini yaitu tradisi ​Saling ​Hantar Makanan.

Pandemi COVID-19 saat ini, “Isolasi diri” dalam waktu yang lama merupakan hal yang menantang untuk menjaga silaturahmi dengan keluarga atau kerabat terdekat karena interaksi sosial secara offline​ sangat dibatasi. Setiap orang mengganti segala bentuk interaksi sosialnya dari ​offline​ ke online​ dengan telepon, pesan singkat, wadah daring, hingga naiknya penggunaan ​video call​ secara signifikan untuk menggantikan proses interaksi sosial tatap muka yang sebagian besar dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, hal itu masih dirasa kurang cukup untuk menyampaikan rasa simpati. Maka dari itu, saling mengantarkan makanan kepada keluarga, teman, atau kerabat dekat menjadi salah satu opsi untuk mengekspresikan rasa peduli di kala pandemi.

Rasa simpati itu muncul disebabkan oleh adanya rasa solidaritas sosial atas dampak dari pandemi yang terjadi akhir-akhir ini. Dalam situasi ini, masyarakat dihadapkan dengan berbagai ketidakpastian yang menimbulkan rasa khawatir akan hal-hal yang berhubungan dengan pandemi dan kelanjutan hidup di masa depan. Paparan informasi mengenai pandemi dan dampak yang ditimbulkan menjadi salah satu faktor timbulnya rasa khawatir di tengah isolasi diri. Rasa khawatir menyebabkan setiap orang berusaha untuk mencari rasionalisasi dari rasa khawatirnya. Untuk meminimalisasi rasa khawatir yang timbul akibat segala perubahan selama pandemi, setiap orang akan saling bercerita dan berbagi kekhawatiran kepada orang terdekat. Menurut ​Jamil Zaki ​dalam buku Building Empathy in a Fractured World​, konsep tersebut dinamakan ​Emotional Empathy.Dalam situasi ini, seseorang akan saling berbagi perasaan untuk menumbuhkan ​something in common​ atas situasi ini.

Ketika kesamaan akan satu rasa khawatir muncul, sebuah rasa empati yang memunculkan keinginan saling membantu sesama dengan memberikan dukungan moral. Menurut ​Hodge and Myers, rasa empati dapat memunculkan perasaan ingin menolong orang lain walaupun dengan beberapa pengorbanan berupa waktu, usaha dan uang.​ Dan, salah satu yang sangat mudah untuk diterima oleh banyak orang adalah memberikan bentuk bantuan berupa makanan.​ Makanan dipilih karena makanan merupakan simbol kebersamaan, kasih sayang dan rasa aman. Menurut Robin Fox, secara perspektif antropologi, makanan adalah simbol dari kegiatan altruisme.

Melalui makanan, orang-orang saling menghantarkan makanan di kala pandemi untuk menunjukkan rasa peduli dan kasih sayang terutama di kala pandemi COVID-19 ini dengan cara yang mudah. Tidak dapat dipungkiri, didukung dengan bertumbuhnya layanan pesan antar yang disediakan jasa penyedia transportasi ​online​, tradisi ini bertumbuh dan berkembang secara cepat. Selain itu, sosial media juga berperan sangat penting yang mendukung tradisi ini menjadi suatu gaya hidup urban yang baru. Makanan membantu kita untuk menyampaikan pesan mengenai bagaimana sudut pandang kita menghadapi masa isolasi diri ini dan bagaimana kita mengekspresikan rasa kebersamaan yang hangat tanpa tatap muka dan sentuhan fisik. Seperti yang diungkapkan Alison Alkon dalam TEDxEmory yang berjudul Food as Radical Empathy, bahwa makanan memiliki potensi yang besar untuk membawa kita dalam kebersamaan untuk mendalami siapa jati diri kita dan bagaimana kita dapat menghubungkan diri kita dengan orang lain.

Saling Hantar Makanan Bukan Hal Yang Asing

Kegiatan saling Hantar Makanan bukan merupakan suatu yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kegiatan ini banyak dilakukan di beberapa wilayah di Indonesia. Di jawa timur, budaya ini dikenal dengan istilah Ater-ater, yang memiliki antar-mengantar makanan berupa lontong opor, apem dan ketupat menjelang bulan Ramadhan dan lebaran kepada tetangga dan keluarga sebagai bentuk rasa berbagi. Tradisi Megengan juga sangat berkaitan dengan makanan dimana menjelang puasa, orang-orang akan saling mengantarkan jajanan berupa kue Apem kepada tetangga menjelang bulan Ramadhan tiba. Di Bali, tradisi yang serupa dinamakan ​Ngejot, sebagai wujud kebersamaan​ antara umat Hindu dan umat Islam yang disampaikan melalui hantaran berupa berbagai jenis makanan pada hari besar tertentu seperti Nyepi, Galungan dan Idul Fitri. Makanan merupakan media yang tepat untuk melakukan interaksi sosial dan mempererat persatuan bangsa. Apapun pesannya, makanan selalu menjadi pembawa pesan toleransi yang dapat diterima oleh siapapun yang dapat menjalin tali persatuan bangsa lintas zaman.

Melatih Empati di Kala Pandemi

Salah satu hal yang penting untuk dikembangkan saat pandemi ini adalah bagaimana kita dapat melatih rasa empati untuk melihat situasi di lingkungan kita dan apa yang sedang dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita menghadapi situasi pandemi ini. Empati sangat mudah dipelajari dengan memperhatikan tiga komponen berikut: Yang pertama, Cognitive Empathy yaitu dengan cara membangkitkan rasa intuisi dengan melakukan identifikasi apa yang sedang dirasakan orang-orang terdekatmu. Buka segala indera dan rasakan bagaimana orang-orang terdekatmu menghadapi situasi ini. Kedua, Emotional Empathy. Dalam situasi ini, rasa berbagi merupakan kunci utama untuk melatih kegiatan empati. Buka pintu interaksimu dengan orang-orang terdekatmu dan mulai bertanya kabar. Dalam kegiatan bertukar emosi, sikap menempatkan diri dalam perasaan orang lain akan terlatih dan kita dapat mengerti apa mengapa orang lain merasakan hal itu. Yang ketiga, yaitu Empathic Concern, yaitu keinginan untuk membantu orang lain. Hodges and Myers menyebutkan bahwa terdapat korelasi positif antara perasaan memahami diri dengan perasaan orang lain dan rasa ingin membantu. Dalam hal ini, empati dapat diekspresikan dengan media apapun, hantar makanan adalah suatu contoh kecil. Membuat suatu gerakan sosial, ikut kegiatan kerelawanan atau memberikan surat semangat untuk orang terdekat dapat dilakukan. Empati adalah soal ekspresi, manfaatkan situasi pandemi ini untuk menemukan ekspresi empati yang sesuai dengan dirimu sendiri.

Sumber foto: unsplash.com/photos/eLpnTMOHAkU