Perempuan Penggerak Literasi Wakatobi

Perempuan Penggerak Literasi Wakatobi

Anak muda punya banyak aksi baik yang dilakukan untuk lingkungannya. Indorelawan merangkum cerita para penggerak dan relawan selama mereka berupaya untuk terus berdampak. Kali ini, Agustia akan menceritakan bagaimana ia membangun Sikola Bajalan untuk literasi anak di Wakatobi.

Masa Kecil

Dulu, Wakatobi belum sekeren dan semakmur ini. Aku ngerasain Wakatobi masih jadi daerah 3T. Cari air susah, gak ada jaringan, jalan kaki ke sekolah yang jaraknya 5 km dari rumah. Sekolah SMP SMA itu cuma satu, karena daerahnya dekat gunung. Jadi, medannya juga menantang. Aku sekolah masuk siang, jadi kadang malam baru sampai rumah.

Doa Baik Guru

Aku inget banget, dulu guruku pernah bilang. Suatu saat Wakatobi akan berkembang, mungkin 5 tahun lagi. Aku tinggal di Pulau Wangi Wangi, dulu aku sering main mobilan pakai pasir berlumpur sambil mencari cacing laut dan cakalang untuk makan. Sekarang, pulau ini banyak dilirik untuk akses pariwisata karena keindahan lautnya.

Mental Tangguh Pengajar Muda

Tahun 2019 aku menjadi Pengajar Muda di Aceh Singkil untuk mengabdi di SDN Lentong Baru. Selama setahun dua bulan, aku tinggal di perumahan guru. Lantainya rusak, kadang harus siap bertemu hewan yang tidak diinginkan seperti tikus atau kelabang. Selain itu, akses teknologi dan transportasi juga sangat sulit.

Kembali ke Kampung Halaman

Awalnya galau untuk buat gerakan. Aku melihat banyak penggerak pendidikan, tapi di Wakatobi belum ada. Di sisi lain, ada ketakutan karena pola pikir masyarakat sini masih kolot; hidup itu sewajarnya saja. Kerja di kantor, tumbuh dewasa, menikah. Belum pikir jauh, gimana agar bisa bermanfaat untuk lingkungan.

Itu sih tantangan terbesarnya, aku belum punya partner tim yang kuat. Tapi, aku memberanikan diri PDKT ke stakeholder. Aku bilang, “Pak, bu, saya gak ada lembaga gak ada komunitas, saya baru merintis dan belum ada relawan sama sekali. Bisakah memberi ruang buat saya berkarya di Wakatobi?”

Modal Nekat Berbuah Manis

Alhamdulillah, aku diberi izin untuk berkegiatan di 3 titik. Pulau Wangi Wangi sebagai titik 1, serta Desa Mola Selatan sebagai titik 2 dan 3. Dari situlah aku baru mulai berpikir untuk melibatkan relawan, karena tidak mungkin aku bergerak sendirian. Mulai dari desain poster, broadcast teman, sampai buat akun organisasi dan pelajari tentang Indorelawan.

Disambut Baik

Mei 2022, Sikola Bajalan terbentuk. Kesenjangan sosial yang membedakan anak darat dan pesisir (Suku Bajo) membuat orangtua mendukung gerakan ini. Siswa SMP di sini masih ada yang belum lancar baca. Masyarakat merasa terbantu, karena akhirnya ada orang darat yang baik (relawan) dan mau berteman dengan anak pesisir.

Tantangan Selalu Ada Tapi Berhenti Bukan Solusi

Sulit cari relawan asli sini, kecuali mereka yang sudah terpapar dunia luar dan teknologi. Relawan menilai positif untuk gerakan kayak gini. Tapi, yang belum terpapar, masih sering menganggap gerakan sosial itu aneh.

“Seperti namanya, aku harap gerakan ini harus tetap berjalan. Supaya anak-anak Suku Bajo di Wakatobi semakin berdaya dan mandiri.”

Ditulis oleh Renita Yulistiana
Hasil wawancara bersama Agustia – Pendiri Sikola Bajalan

Ubah Niat Baik Jadi Aksi Baik Hari Ini di Indorelawan.org